| Kelahiran |
| 0 Orang |
| Kematian |
| 0 Orang |
| Masuk |
| 0 Orang |
| Pindah |
| 0 Orang |
| Kelahiran |
| 0 Orang |
| Kematian |
| 2 Orang |
| Masuk |
| 2 Orang |
| Pindah |
| 0 Orang |
26 Agustus 2016 2.831 Kali
Tanjungpuro.desa.id – Menurut catatan Babad Lorog pada abad ke-17, datanglah seorang putra raja dari tanah Bandung Priangan. Beliau kemudian bersuwita atau mengabdi kepada Adipati Batara Katong di Ponorogo. Dalam pengabdiannya, ia memohon izin untuk membuka hutan dan menjadikannya sebagai pedesaan. Permintaan itu dikabulkan oleh sang Adipati, dan ia diberi hutan di daerah pantai selatan untuk dikelola. Sejak saat itu dimulailah pembabatan hutan yang kemudian berubah menjadi pemukiman. Dari sekian banyak wilayah yang dibabat, daerah Loroklah yang dipilih sebagai tempat bermukim karena tanahnya subur, datarannya luas, dan ketersediaan airnya melimpah.
Karena berasal dari Bandung Priangan, tokoh tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Kyai Bandung atau Ki Ageng Bandung. Daerah tempat tinggalnya lantas dinamakan Desa Bandung, menyesuaikan dengan nama asal beliau yang menjadi cikal bakal kawasan tersebut.
Suatu hari, Ki Ageng Bandung menjelajah hutan ke arah timur dari Dusun Bandung. Dalam perjalanannya, ia mendengar suara burung perkutut yang bersahut-sahutan. Rasa penasarannya mendorong ia mendekati arah suara itu hingga sampai pada sebuah pohon tanjung kembar atau pohon tanjung sakembaran. Di tempat itu, ia mendapati pemandangan mengejutkan. Tepat di sebelah utara pohon berdiri sebuah pendapa berbentuk joglo, sementara di sebelah selatannya terdapat sebuah masjid berpagar bata merah mentah dengan atap ilalang serta sebuah gapura di depannya. Anehnya, seluruh bangunan tersebut tidak berpenghuni dan tampak sunyi.
Dengan penuh rasa heran, Ki Ageng Bandung masuk ke pendapa. Di dalamnya ia menemukan sebuah surat berbahasa Jawa kuno. Isi tulisan itu berbunyi:
“Manawa alas iki wis babad sarta wis dadi desa reja, pandhapa iki dak cadangkake sapa kang dadi lurah. Lan masjid ing sakidul kulone iki dienggo panggonan mulang santri. Dene kang agawe pandhapa lan masjid iki aku, Sunan Geseng”.
Jika diartikan, surat tersebut berisikan:
“Apabila hutan ini sudah dibabat dan menjadi desa yang makmur, pendapa ini aku ujukan untuk siapa yang akan menjadi kepala desa. Masjid di sebelah tenggara nanti digunakan untuk tempat belajar para santri. Yang membangun pendapa dan masjid aku, Sunan Geseng”.
Setelah membaca surat tersebut, ia kemudian masuk ke masjid dan melihat sebuah kepek atau tas anyaman yang tergantung di atap. Saat dibuka, kepek itu berisi jubah poleng, baju putih tenun Jawa, sorban, serta beberapa peralatan pertukangan seperti tatah, pahat, dan gergaji yang sudah menyatu karena berkarat. Setelah mengetahui isinya, kepek itu dikembalikan dan digantungkan pada tempat semula.
Kisah ini sejalan dengan penuturan turun-temurun yang hidup di masyarakat. Masjid kecil yang ditemukan Ki Ageng Bandung kemudian dikenal sebagai Masjid Nurul Huda, sebuah masjid tiban yang dipercaya muncul secara tiba-tiba dan memiliki nilai keramat. Hingga kini, benda-benda peninggalan yang ditemukan, termasuk kepek berisi jubah dan perlengkapan lainnya, masih tersimpan rapi di dalam kotak kayu berbalut kain putih yang dirawat secara turun-temurun.
Dalam perjalanan hidupnya, Ki Ageng Bandung diketahui merupakan bangsawan dari Padjajaran, Jawa Barat, yang meninggalkan tanah Priangan setelah kalah dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya. Setelah itu, ia mengabdi kepada Kerajaan Pajang di Jawa Tengah, lalu sampai ke wilayah Ngadirojo bersama salah satu muridnya, Panji Sanjayarangin. Sebelum bermukim di Lorok, ia juga sempat membuka pemukiman di Desa Sangrahan, Kecamatan Kebonagung, dan Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan.
Masjid Nurul Huda yang berada di tengah hutan Lorok hingga kini masih berdiri kokoh meski hanya mengalami beberapa kali renovasi. Peristiwa-peristiwa unik kerap terjadi selama pemugaran masjid, seperti kelumpuhan mendadak yang dialami pemangku masjid dan sembuh dengan sendirinya setelah renovasi selesai. Masjid ini juga memiliki pantangan tertentu, misalnya larangan bagi perempuan yang sedang haid untuk masuk ke dalam masjid, serta larangan buang air kecil sembarangan di sekitar kawasan masjid.
Di dekat masjid terdapat sebuah sumur yang airnya dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Banyak peziarah dari dalam maupun luar daerah datang untuk mengambil air dari sumur tersebut. Bahkan, menurut cerita, beberapa pejabat pemerintah pernah berkunjung ke masjid ini pada masa Presiden Soeharto masih menjabat.
Seiring berjalannya waktu, hutan yang dibabat Ki Ageng Bandung dan keturunannya kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang makmur. Nama Tanjungpuro diberikan karena adanya pohon tanjung sakembaran di tempat ditemukannya masjid, serta adanya sebuah gapura di depannya. Nama ini terus digunakan hingga sekarang sebagai identitas desa yang menyimpan sejarah panjang dan nilai religius yang tinggi.
Hingga hari ini, Masjid Nurul Huda tetap menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Desa Tanjungpuro. Setiap salat Jumat maupun tarawih di bulan Ramadan, masjid ini selalu dipenuhi jamaah, tidak hanya dari warga sekitar tetapi juga dari luar kota. Masjid keramat ini bukan hanya menjadi saksi bisu sejarah lahirnya Desa Tanjungpuro, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, spiritualitas, dan perjalanan panjang masyarakatnya sejak masa Ki Ageng Bandung hingga generasi sekarang.
Untuk artikel ini
Posyandu Balita dan Ibu Hamil Sekartanjung Desa Tanjungpuro Awal Tahun 2026
date_range 06 Januari 2026
favorite 48 Kali
KEGIATAN DONOR DARAH RUTIN DI POLINDES TANJUNGURO
date_range 28 Juli 2025
favorite 53 Kali
Musyawarah Desa (Musdes) RKPDes Tahun 2026 Desa Tanjungpuro
date_range 28 Juli 2025
favorite 55 Kali
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Tanjungpuro Bahas Rembuk Stunting dan Peningkatan Kesehatan Warga
date_range 24 Juli 2025
favorite 158 Kali
Penyaluran Bantuan Pangan Beras Tahun 2025 di Desa Tanjunguro Berjalan Lancar
date_range 23 Juli 2025
favorite 55 Kali
Buka Bersama Santri Madin Nurul Huda Tanjungpuro Berlangsung Penuh Kebersamaan
date_range 20 Maret 2025
favorite 120 Kali
Pertemuan Rutin PKK Desa Tanjungpuro Bahas Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
date_range 09 Maret 2025
favorite 90 Kali
Pendaftaran BLT UMKM Dibuka Kembali, Yuk Daftarkan Usahamu Agar Bisa Mendapat Bantuan
date_range 19 Oktober 2020
favorite 1.722 Kali
Waspada Cacar Air: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
date_range 13 Januari 2023
favorite 1.109 Kali
Kalender Kegiatan Tahunan
date_range 06 Januari 2020
favorite 752 Kali
Maklumat Pengelola Layanan Informasi Dan Dokumentasi
date_range 01 Januari 2020
favorite 685 Kali
SK PPID Tahun 2021
date_range 20 Januari 2021
favorite 660 Kali
Standart Operasional Prosedur (SOP) Pelayanan Informasi Publik
date_range 01 Januari 2020
favorite 633 Kali
Pemdes Tanjungpuro Bantukan Ribuan Kilogram Benih Padi untuk Petani
date_range 30 Oktober 2020
favorite 574 Kali
Posyandu Balita dan Ibu Hamil Sekartanjung Desa Tanjungpuro Awal Tahun 2026
date_range 06 Januari 2026
favorite 48 Kali
Pendaftaran BLT UMKM Dibuka Kembali, Yuk Daftarkan Usahamu Agar Bisa Mendapat Bantuan
date_range 19 Oktober 2020
favorite 1.722 Kali
HIPPA Tirtomulyo Lakukan Sosialisasi Rencana Pembangunan Saluran Irigasi
date_range 12 April 2023
favorite 302 Kali
Open Rekrutmen KPPS Tanjungpuro Tahun 2024
date_range 12 Desember 2023
favorite 457 Kali
Pemdes Tanjungpuro Tetapkan 28 KPM Penerima BLT-DD 2023
date_range 04 Januari 2023
favorite 170 Kali
SK PPID Tahun 2021
date_range 20 Januari 2021
favorite 660 Kali
Laporan Keuangan Semester 2 Tahun 2020
date_range 01 Januari 2021
favorite 544 Kali
Belum ada agenda
| Hari ini | : | 111 |
| Kemarin | : | 82 |
| Total Pengunjung | : | 312.571 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.216.32 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
| Hari | Mulai | Selesai |
|---|---|---|
Senin |
08:00:00 | 14:00:00 |
Selasa |
08:00:00 | 14:00:00 |
Rabu |
08:00:00 | 14:00:00 |
Kamis |
08:00:00 | 14:00:00 |
Jumat |
08:00:00 | 11:30:00 |
Sabtu |
Libur | |
Minggu |
Libur | |
Realisasi | Anggaran
Realisasi | Anggaran
Realisasi | Anggaran