rss_feed

Desa Tanjungpuro

Jln. Raya Lorok - Trenggalek Km.02 Tanjungpuro
Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur , Kode Pos 63572

03573219244|mail_outline desatanjungpuro@gmail.com

Hari Libur Nasional
Wafat Yesus Kristus (Good Friday)
  • TUKIYADI

    Kepala Desa

    Tidak Ada di Kantor
  • ISWAHYUDI

    Sekretaris Desa

    Tidak Ada di Kantor
  • HERMANTO ADI

    Kasi Pelayanan

    Tidak Ada di Kantor
  • KUSUMA HADI PURNAWAN

    Kasi Kesejahteraan Rakyat

    Tidak Ada di Kantor
  • AMIN JUNAINI

    Kasi Pemerintahan

    Tidak Ada di Kantor
  • KARJUNI

    Kaur Tata Usaha dan Umum

    Tidak Ada di Kantor
  • SUPARYADI

    Kaur Perencanaan

    Tidak Ada di Kantor
  • ENIK MUHEMIN

    Kaur Keuangan

    Tidak Ada di Kantor
  • BAMBANG WASITO

    Kepala Dusun Tanjung

    Tidak Ada di Kantor
  • SUGIARTO

    Kepala Dusun Beton

    Tidak Ada di Kantor
  • MARGONO

    Kepala Dusun Krajan Lor

    Tidak Ada di Kantor
  • AJI INDRA WAHYUDI

    Kepala Dusun Krajan Kidul

    Tidak Ada di Kantor

settings Pengaturan Layar

Kantor Desa Tanjungpuro membuka pelayanan publik pada hari Senin - Kamis pukul 08.00 - 14.00, Jumat pukul 08.00 - 11.00. Selamat datang di website Desa Tanjungpuro Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan
Bulan Ini
Kelahiran
0 Orang
Kematian
0 Orang
Masuk
0 Orang
Pindah
0 Orang
Bulan Lalu
Kelahiran
0 Orang
Kematian
2 Orang
Masuk
2 Orang
Pindah
0 Orang

0

Hari Ini

1

Kemarin

2

Minggu Ini

1

Bulan Ini

10

Bulan Lalu

40

Tahun Ini

203

Tahun Lalu

1,611

Total
fingerprint
Sejarah Desa Tanjungpuro

26 Agustus 2016 2.831 Kali

Tanjungpuro.desa.id – Menurut catatan Babad Lorog pada abad ke-17, datanglah seorang putra raja dari tanah Bandung Priangan. Beliau kemudian bersuwita atau mengabdi kepada Adipati Batara Katong di Ponorogo. Dalam pengabdiannya, ia memohon izin untuk membuka hutan dan menjadikannya sebagai pedesaan. Permintaan itu dikabulkan oleh sang Adipati, dan ia diberi hutan di daerah pantai selatan untuk dikelola. Sejak saat itu dimulailah pembabatan hutan yang kemudian berubah menjadi pemukiman. Dari sekian banyak wilayah yang dibabat, daerah Loroklah yang dipilih sebagai tempat bermukim karena tanahnya subur, datarannya luas, dan ketersediaan airnya melimpah.

Karena berasal dari Bandung Priangan, tokoh tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Kyai Bandung atau Ki Ageng Bandung. Daerah tempat tinggalnya lantas dinamakan Desa Bandung, menyesuaikan dengan nama asal beliau yang menjadi cikal bakal kawasan tersebut.

Suatu hari, Ki Ageng Bandung menjelajah hutan ke arah timur dari Dusun Bandung. Dalam perjalanannya, ia mendengar suara burung perkutut yang bersahut-sahutan. Rasa penasarannya mendorong ia mendekati arah suara itu hingga sampai pada sebuah pohon tanjung kembar atau pohon tanjung sakembaran. Di tempat itu, ia mendapati pemandangan mengejutkan. Tepat di sebelah utara pohon berdiri sebuah pendapa berbentuk joglo, sementara di sebelah selatannya terdapat sebuah masjid berpagar bata merah mentah dengan atap ilalang serta sebuah gapura di depannya. Anehnya, seluruh bangunan tersebut tidak berpenghuni dan tampak sunyi.

Dengan penuh rasa heran, Ki Ageng Bandung masuk ke pendapa. Di dalamnya ia menemukan sebuah surat berbahasa Jawa kuno. Isi tulisan itu berbunyi:

“Manawa alas iki wis babad sarta wis dadi desa reja, pandhapa iki dak cadangkake sapa kang dadi lurah. Lan masjid ing sakidul kulone iki dienggo panggonan mulang santri. Dene kang agawe pandhapa lan masjid iki aku, Sunan Geseng”.

Jika diartikan, surat tersebut berisikan:

“Apabila hutan ini sudah dibabat dan menjadi desa yang makmur, pendapa ini aku ujukan untuk siapa yang akan menjadi kepala desa. Masjid di sebelah tenggara nanti digunakan untuk tempat belajar para santri. Yang membangun pendapa dan masjid aku, Sunan Geseng”.

Setelah membaca surat tersebut, ia kemudian masuk ke masjid dan melihat sebuah kepek atau tas anyaman yang tergantung di atap. Saat dibuka, kepek itu berisi jubah poleng, baju putih tenun Jawa, sorban, serta beberapa peralatan pertukangan seperti tatah, pahat, dan gergaji yang sudah menyatu karena berkarat. Setelah mengetahui isinya, kepek itu dikembalikan dan digantungkan pada tempat semula.

Kisah ini sejalan dengan penuturan turun-temurun yang hidup di masyarakat. Masjid kecil yang ditemukan Ki Ageng Bandung kemudian dikenal sebagai Masjid Nurul Huda, sebuah masjid tiban yang dipercaya muncul secara tiba-tiba dan memiliki nilai keramat. Hingga kini, benda-benda peninggalan yang ditemukan, termasuk kepek berisi jubah dan perlengkapan lainnya, masih tersimpan rapi di dalam kotak kayu berbalut kain putih yang dirawat secara turun-temurun.

Dalam perjalanan hidupnya, Ki Ageng Bandung diketahui merupakan bangsawan dari Padjajaran, Jawa Barat, yang meninggalkan tanah Priangan setelah kalah dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya. Setelah itu, ia mengabdi kepada Kerajaan Pajang di Jawa Tengah, lalu sampai ke wilayah Ngadirojo bersama salah satu muridnya, Panji Sanjayarangin. Sebelum bermukim di Lorok, ia juga sempat membuka pemukiman di Desa Sangrahan, Kecamatan Kebonagung, dan Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan.

Masjid Nurul Huda yang berada di tengah hutan Lorok hingga kini masih berdiri kokoh meski hanya mengalami beberapa kali renovasi. Peristiwa-peristiwa unik kerap terjadi selama pemugaran masjid, seperti kelumpuhan mendadak yang dialami pemangku masjid dan sembuh dengan sendirinya setelah renovasi selesai. Masjid ini juga memiliki pantangan tertentu, misalnya larangan bagi perempuan yang sedang haid untuk masuk ke dalam masjid, serta larangan buang air kecil sembarangan di sekitar kawasan masjid.

Di dekat masjid terdapat sebuah sumur yang airnya dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Banyak peziarah dari dalam maupun luar daerah datang untuk mengambil air dari sumur tersebut. Bahkan, menurut cerita, beberapa pejabat pemerintah pernah berkunjung ke masjid ini pada masa Presiden Soeharto masih menjabat.

Seiring berjalannya waktu, hutan yang dibabat Ki Ageng Bandung dan keturunannya kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang makmur. Nama Tanjungpuro diberikan karena adanya pohon tanjung sakembaran di tempat ditemukannya masjid, serta adanya sebuah gapura di depannya. Nama ini terus digunakan hingga sekarang sebagai identitas desa yang menyimpan sejarah panjang dan nilai religius yang tinggi.

Hingga hari ini, Masjid Nurul Huda tetap menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Desa Tanjungpuro. Setiap salat Jumat maupun tarawih di bulan Ramadan, masjid ini selalu dipenuhi jamaah, tidak hanya dari warga sekitar tetapi juga dari luar kota. Masjid keramat ini bukan hanya menjadi saksi bisu sejarah lahirnya Desa Tanjungpuro, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, spiritualitas, dan perjalanan panjang masyarakatnya sejak masa Ki Ageng Bandung hingga generasi sekarang.

chat
Kirim Komentar

Untuk artikel ini

person
stay_current_portrait
mail
chat

account_circle Pemerintah Desa

folder Arsip Artikel


assessment Statistik

event Agenda


  • Belum ada agenda

map Wilayah Desa

Alamat : Jln. Raya Lorok - Trenggalek Km.02 Tanjungpuro
Desa : Tanjungpuro
Kecamatan : Ngadirojo
Kabupaten : Pacitan
Kodepos : 63572
Telepon : 03573219244
No. HP :
Email : desatanjungpuro@gmail.com

message Komentar Terkini

  • person Parso, S.Kom

    date_range 06 November 2020 12:26:03

    Selamat untuk Pemdes Tanjungpuro sudah menggunakan [...]
  • person Eni setyowati

    date_range 22 Oktober 2020 07:41:53

    Tanjungpuro mantap cuy..,,lanjutken.... [...]
  • person Surati

    date_range 20 Oktober 2020 09:10:50

    Terimakasih Atas Informasinya Sangat membantu [...]
  • person Wanto

    date_range 14 September 2016 06:09:16

    Selamat atas keberhasilan Tanjungpuro merayakan Hari [...]

insert_photo Galeri

contacts Media Sosial

assessment Statistik Pengunjung

Hari ini : 111
Kemarin : 82
Total Pengunjung : 312.571
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.32
Browser : Mozilla 5.0

work Jam Kerja

Hari Mulai Selesai
Senin
08:00:00 14:00:00
Selasa
08:00:00 14:00:00
Rabu
08:00:00 14:00:00
Kamis
08:00:00 14:00:00
Jumat
08:00:00 11:30:00
Sabtu
Libur
Minggu
Libur
TRANSPARANSI ANGGARAN
Sumber Data : Siskeudes
insert_chart
APBDesa 2025 Pelaksanaan

Realisasi | Anggaran

Pendapatan Desa
Rp. 701.891.961,63 | Rp. 1.680.769.011,00
41.76 %
Belanja Desa
Rp. 205.858.290,00 | Rp. 1.124.477.776,00
18.31 %
Pembiayaan Desa
Rp. 46.554.557,00 | Rp. 46.554.557,00
100 %
insert_chart
APBDesa 2025 Pendapatan

Realisasi | Anggaran

Hasil Usaha Desa
Rp. 0,00 | Rp. 12.000.000,00
0 %
Hasil Aset Desa
Rp. 14.910.000,00 | Rp. 85.400.000,00
17.46 %
Lain-Lain Pendapatan Asli Desa
Rp. 0,00 | Rp. 80.300.000,00
0 %
Dana Desa
Rp. 613.191.600,00 | Rp. 1.021.986.000,00
60 %
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp. 0,00 | Rp. 32.589.011,00
0 %
Alokasi Dana Desa
Rp. 73.729.854,00 | Rp. 445.494.000,00
16.55 %
Bantuan Keuangan Kabupaten/Kota
Rp. 0,00 | Rp. 1.200.000,00
0 %
Bunga Bank
Rp. 60.507,63 | Rp. 1.800.000,00
3.36 %
insert_chart
APBDesa 2025 Pembelanjaan

Realisasi | Anggaran

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp. 84.702.290,00 | Rp. 740.735.860,00
11.43 %
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp. 118.756.000,00 | Rp. 366.554.000,00
32.4 %
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp. 2.400.000,00 | Rp. 17.187.916,00
13.96 %